Sunday, December 1, 2019

Basmi Hama Pertanian dengan Biopestisida: Yuk, Kenali Cara Buat Pestisida Organik


Gambar 1. Pertanian Okra tumpang sari Cipanas Cianjur
Kendala utama terkait menurunnya kualitas dan kuantitas hasil panen adalah keberadaan hama yang menyerang. Sebagian besar petani kita biasa membasminya dengan pestisida kimia, padahal kita tahu penggunaannya berbahaya. Tak sedikit petani yang alami keracunan akibat terus bersinggungan dengan bahan kimia tersebut. Selain masalah kesehatan, penggunaan pestisida kimia terbukti membuat hama kebal (resisten) sehingga dosis harus terus ditingkatkan. Belum lagi efek jangka panjang penggunaanya menyebabkan tanah kehilangan kesuburan karena racun yang terakumulasi dapat membunuh mikroorganisme pengurai dalam tanah.

Dewasa ini telah terasa efek penggunaan bahan-bahan kimia dalam pertanian, sebagian petani mulai beralih dan menerapkan konsep berocok tanam organik. Hasil panen yang sehat membuat produk ini menjadi tren dan permintaan konsumen meningkat. Demikian keuntungan berlipat dikantongi para pelaku bisnis ini. Untuk mengatasi kendala hama mereka menggunakan biopestisida atau pestisida organik yang bersumber dari tumbuhan. Bahan ini mudah ditemukan dan terdapat disekitar kita. Kita hanya perlu mengetahui jenis-jenis tumbuhan berpotensi tersebut dan cara mengaplikasikannya.

 

1. Daun Pepaya (Carica Papaya)

Bahan aktif papain dalam daun pepaya dapat digunakan untuk membasmi serangga penghisap dan pemakan daun seperti aphid (kutu daun) dan ulat. Untuk membuatnya pertama siapkan 1 kg daun pepaya kemudian tumbuk dan larutkan ke dalam 10 liter air. Tambahkan dua sendok makan minyak tanah dan 30 gram deterjen. Tunggu semalam kemudian saring agar didapat airnya saja. Larutan pestisida siap digunakan.
Gambar 2. Daun Pepaya ©flickr.com/Dinesh Valke

 2. Tembakau (Nicotiana spp.)

Tembakau merupakan bahan baku insektisida karena mengandung alkaloid nikotin yang bersifat racun. Daun tanaman ini terbukti efektif untuk membasmi hama penghisap. Untuk membuatnya kita dapat mengumpulkan 250 gram daun tembakau. Selanjutnya masukan kedalam ember dan tambahkan 8 liter air, simpan selama satu malam. Tambahkan 2 sendok teh detergen kemudian aduk. Saring sehingga diperoleh airnya saja. Larutan selanjutnya dapat anda gunakan sebagai insektisida.
Gambar 3. Perkebunan Tembakau ©Dinas Perkebunan Jabar

3. Srikaya (Annona Squamosa)

Zat aktif annonain dan resin dipercaya ampuh untuk mengendalikan hama berupa ulat dan serangga penghisap. Bahan yang digunakan adalah bagian biji dari buahnya. Pembuatannya dengan menumbuk 25 gram biji srikaya hingga menjadi serbuk (agar mudah dapat menggunakan blender dengan mencampur sedikit air). Selanjutnya campur dengan satu liter air dan tambahkan 2 sendok teh deterjen. Simpan selama satu malam, kemudian saring. Ekstrak biji srikaya siap digunakan.
Gambar 4. Buah Srikaya ©jogja.tribunnews

4. Sirsak (Annona Muricata)

Sama seperti srikaya sirsak mengandung annonain dan resin. Namun bagian yang lebih efektif untuk digunakan adalah bagian daunnya. Untuk pembuatannya kita dapat menghaluskan daun sirsak sebanyak 100 lembar kemudian tambahkan air sebanyak 5 liter. Tambahkan deterjen dan aduk, lalu simpan selama semalam dan pisahkan larutan dengan padatan. Untuk aplikasinya larutan dapat dicampur dengan air dengan perbandingan 1:10.
Gambar 5. Daun Sirsak ©wartakota.tribunnews
Bahan lainnya yang dapat digunakan sebagai pestisida adalah semua bagian tanaman yang berbau menyengat dan berasa panas. Serangga tidak menyukai bau dan rasa tersebut. Bahan ini lebih bersifat mengusir dari pada membunuh. Berikut merupakan contohnya.

 

5. Bawang Putih (Allium sativum)

Bawang putih memiliki bau yang tidak disukai serangga. Jadi bahan ini efektif untuk mengusir dan bukan membunuh. Untuk membuatnya pertama tumbuk bawang putih dan campur dengan 0,5 liter air, 10 gram deterjen dan 2 sendok teh minyak tanah. Simpan selama satu hari lalu saring agar terpisah dari ampasnya. Untuk penggunaannya anda dapat mengencerkan larutan dengan perbandingan ekstrak dan air 1:10.

Cara lain yang dapat anda gunakan yaitu dengan mengiris bawang putih menjadi beberapa bagian. Masukan kedalam toples dan isi penuh air. Diamkan selama satu hari dan air rendaman siap digunakan. Anda dapat mengisi ulang air ke dalam toples dan menggunakan kembali air rendamannya. Dengan demikian pestisida nabati ini dapat digunakan kembali.

 

6. Sirih Merah (Piper crocatum)

Kavikol dan fenol dan minyak atsiri dan tanin, merupakan bahan aktif yang terkandung dalam sirih merah. Bahan ini terbukti dapat digunakan untuk mengendalikan serangga seperti kutu penghisap, belalang dan ulat yang memakan daun tanaman budidaya. Bau dan panasnya dapat mencegah hama mendekat, sementara penyemprotan langsung ke arah hama dapat membuat lemas, kematian secara perlahan dan menghilangkan selera makan hama. Untuk pembuatannya kita perlu menyiapkan 50 lembar daun dari tanaman ini. Haluskan dan campurkan dengan 1 liter air dan diamkan selama 10 menit. Saring larutan agar terpisah dari padatannya. Kita dapat juga menambahkan daun ekstrak sereh wangi agar aroma pestisida lebih kuat. Untuk aplikasinya kita dapat mengencerkan larutan dengan air menurut perbandingan 1 : 75.
Gambar 6. Daun Sirih Merah ©banjarmasin.tribunnews

7. Cabai (Capsicum spp.)

Cabai dipercaya dapat mengurangi nafsu makan tikus karena mengandung minyak atsiri, piperin dan piperidin. Selain menimbulkan rasa panas bahan ini memang sering digunakan sebagai repellent atau penolak hama mengandalkan penurunan nafsu makan. Untuk membuatnya anda dapat menumbuk cabai hingga halus kemudian menambahkan air dan diamkan selama satu malam. Saring agar terpisah dari padatan. Aplikasi dengan menyemprotkan larutan secara langsung pada tanaman yang terserang hama.

Masih banyak tumbuhan lain yang berpotensi digunakan diantaranya jahe, Lada dan tanaman sejenis yang menimbulkan rasa panas. Untuk yang berbau menyengat diantaranya tatasbihan habang, kambat, kakamalan dan kayu ilatung. Kita hanya tinggal memilih bahan sesuai ketersedian dan menyesuaikan fungsinya sesuai jenis hama penyerang. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda dan selamat mencoba.



Pustaka:
Turang, Arnold. 2016. Pestisida Nabati dan Cara Pembuatannya. BPTP Sulawesi Utara. http://sulut.litbang.pertanian.go.id/
Adrach. 2018. Manfaat dan Cara Membuat Daun Sirih Merah Sebagai Pestisida Alami. Agrotani Cipanas. https://agrotanicipanas.blogspot.com
Ardiwinata A. N., dkk.. 2007. Bahan Tumbuhan Sebagai Agensia Pengendali Hama Tanaman Ramah Lingkungan. Kementerian Pertanian. Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa. Jurnal: hal 337-349.
Balitbangtan. 2014. Pestisida Nabati Murah, Mudah dan Ramah Lingkungan. http://balit bangtan.pertanian.go.id/

Saturday, November 30, 2019

Urban Farming: Peluang Usaha Hijaukan Mata dengan Bangun Pertanian Kota

Bagi anda masyarakat perkotaan pastinya merasa asing dengan dunia pertanian. Ladang pertanian seperti kebun dan sawah hanya anda temui saat mudik ke kampung halaman atau pergi berlibur ke kawasan wisata pedesaan. Padahal kegiatan bertani dapat dilakukan di perkotaan yang padat tempat anda tinggal. Bagaimana caranya? Meski belum banyak diketahui, sebagian orang telah menerapkan konsep ini. Mulai dari sekadar hobi mereka sukses menjadi petani kota dengan omset jutaan hingga ratusan juta. Lalu konsep apa yang mereka gunakan?

Gambar 1. Contoh aplikasi urban farming     Photo by: David Williams/Bloomberg

Sisi Positif dan Peluang Usaha

Urban farming merupakan konsep bertani dengan memanfaatkan lahan yang tersisa di perkotaan. Bisa dilakukan di atas gedung mall, apartement bahkan halaman rumah yang sempit sekalipun. Metode yang digunakan beragam_kebanyakan berbeda dengan pertanian konvenional yang memanfaatkan lahan luas dan tanah sebagai media tanam. Metode yang dapat kita gunakan diantanya hidroponik dan akuaponik. Kedua metode ini dapat diaplikasikan pada lahan sempit tanpa perlu menggunakan tanah sebagai media tanam. Hasilnya? produksi tanaman budidaya dapat mencapai berkali-kali lipat dibanding bertani secara konvensional dengan luas lahan yang sama.

Keuntungan lainnya yang bisa kita dapat dari menjalankan konsep ini adalah berpartisipasi dalam memelihara lingkungan. Semakin banyak pelaku urban farming semakin banyak oksigen yang anda hirup setiap harinya. Demikian suhu udara yang panas dapat menurun. Tumbuhan dapat menyerap polutan udara, sehingga dapat menurunkan tingkat pencemaran akibat asap kendaraan yang anda buang setiap harinya. Sudahkah anda tertarik untuk menerapkan konsep ini? Berikut akan diuraikan beberapa metode bertani moderen yang dapat anda aplikasikan. Kita dapat mulai dari skala hobi sebagai penghilang jenuh, skala rumahtangga untuk menambah penghasilan hingga skala industri besar dengan omset ratusan juta perbulannya.

Hidroponik

Gambar 2. Kebun Hidroponik     Photo: Cyberspaceandtime.com
Konsep bertani pertama yang dapat digunakan adalah hidroponik. Prinsip hidroponik adalah memberikan nutrisi pada perakaran tanaman melalui perantara air. Nutrisi hidroponik yang biasa digunakan adalah AB-mix yang tersedia di toko-toko pertanian_dijual secara komersil. AB-Mix mengandung unsurhara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Nutrisi ini terlebih dahulu dilarutkan kedalam air agar dapat digunakan, barulah selanjutnya diberikan pada tanaman budidaya. Cara pemberian nutrisi berbeda-beda, tergantung metode budidaya yang diterapkan.

Ada beragam metode yang dapat diaplikasikan pada hidroponik. Pertama sistem irigasi tetes. Sistem ini merupakan mengembangan dari sistem guyur atau menyiram tanaman secara langsung. Irigasi tetes cocok diaplikasikan pada tanaman buah seperti melon, tomat dan cabai. Untuk menerapkannya, kita perlu merangkai suatu sistem pengairan. Mulai dari menyediakan bak penampungan nutrisi, kemudian mengalirkannya melalui selang ke tanaman budidaya dalam pot atau polibag. Metode ini cocok diaplikasikan pada pertanian skala menengah keatas. Alasannya, dapat menghemat waktu dan tenaga dalam pemeliharaan.

Metode selanjutnya yaitu menanam pada media air secara langsung. Bila pada sistem Irigasi tetes, penanaman masih menggunakan media berupa sabut kelapa, kerikil atau hidroton sebagai media melekatnya akar. Pada metode ini, tanaman akan digantung di atas permukaan air tanpa media apapun. Akar tanaman selanjutnya berkembang pada air yang telah diberi nutrisi. Aplikasi dari metode ini dapat kita lihat pada sisem DFT (Deep), NFT (Nutrient Film T), dan Rakit Apung.
Gambar 3. Metode Irigasi Tetes     Sumber: Dokumentasi pribadi
Untuk menjalankan DFT, NFT dan Rakit Apung diperlukan pompa air. Pada DFT dan NFT, air akan dialirkan dari bak penampungan nutrisi ke tempat tanam berupa paralon atau talang air bertingkat. Mulai dari tingkat paling atas ke bawah dan kembali ke bak penampungan. Demikian sistem sirkulasi berjalan. Untuk sistem rakit apung, pompa digunakan sebagai sirkulasi dan aerasi kolam. Dengan bergeraknya air akan menambah oksigen terlarut dan mengaduk larutan nutrisi agar tidak mengendap atau terkonsentrasi pada satu titik saja.

Akuaponik

Double panen adalah salahsatu keunggulan akuaponik. Akuaponik menerapkan prinsip yang terjadi dalam suatu ekosistem yang kemudian diterapkan pada sistem budidaya. Prinsipnya pertama ikan yang dipelihara akan mengeluarkan kotoran, kemudian air yang mengandung kotoran ikan dialirkan ke tanaman budidaya. Tanaman kemudian akan menyerap kotoran ikan sebagai nutrisi, selanjutnya air bebas kotoran (bersih) kembali ke kolam ikan. Demikian anda dapat memanen ikan dan juga tanaman yang anda budidayakan. Menarik bukan?


Gambar 3. Contoh akuaponik sederhana     Sumber: Hidroponik Store

Perkembangan Urban Farming

Beragam manfaat yang ditawarkan dari urban farming akhirnya membuka mata pemerintah Indonesia, khususnya Ibukota negara DKI Jakarta. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) telah merilis pernyataan bahwa mereka akan memulai urban farming dari Balai Kota. Selanjutnya akan dikembangkan dengan membuka cabang di setiap kantor walikota. Mereka menamai perkebunannya dengan nama Balkot Farm. Tujuan dibentuk perkebunan ini adalah menghadirkan inovasi dengan harapan masyarakat dapat mengetahui, memahami dan ikut menerapkan konsep ini. Dengan demikian manfaat urban farming dapat dirasakan masyarakat DKI Jakarta.